Tujuh Jam di Negeri Tanpa Hujan?

0

Percayakah Anda kalau ada kota yang belum pernah ada hujan sama sekali? Padahal, di kota-kota di timur tengah yang penuh hamparan gurun pasir saja masih sering mengalami hujan deras bahkan hujan es.

Ya, ini bukan di Timur Tengah. Tapi di Lima. Ibukota Peru. Letaknya di Amerika Latin. Yang berada di deretan pegunungan Andes..

Lima, ibukota negara Peru, yang luasnya tak sampai 200 km2 ini memang tak pernah dihampiri hujan. “mungkin karena cuacanya begitu. Tapi juga tidak terlalu panas. Sejuk saja. Kalau pun ada hujan, itu bukan di Lima. Tapi di kawasan Peru lainnya,” ujar pak Dewanto Priyokusumo, Sekretaris Dubes KBRI Peru, saat menemani kami mencari makan malam selepas jam dinas.

Sebetulnya berkunjung ke KBRI ini tidak ada dalam planing kami. Ini terjadi akibat adanya “kecelakaan”. Karena faktor cuaca, pesawat VivaAir yang seyogyanya membawa kami dari Lima ke Cusco, kota tertinggi dan terdekat dengan Machu Pichu, dicancel oleh maskapainya. Semua penumpang diberi kompensasi menginap di hotel bintang empat di kawasan kompleks embassy negara-negara sahabat Peru, di sepanjang jalan utama Miraflores.

Nah, ini namanya “musibah” yang merupakan berkah. Tempat hotel kami menginap hanya berjarak 500m dari Kedutaan Republik Indonesia. Maka secara tiba-tiba kami putuskan jalan ke KBRI saja.

“Loh, bagaimana ceritanya kalian bertiga bisa sampai sini? Belum tentu loh setahun sekali ada turis Indonesia berkunjung ke KBRI. Ini kejutan sekali. Apa kabar?,” ujar om Dewanto sambil berkelakar. “Tapi, baguslah kalau begini. Setiap orang Indonesia yang datang keluar negeri seyogyanya lapor diri ke KBRI. Supaya kalo ada hambatan apa-apa bisa kami bantu secepatnya. Itu tugas kami.”

Disambut dengan begitu hangat otomatis berbahagialah rasa hati kami. Serasa masuk di rumah sendiri. Satu persatu enam staf KBRI yang lain ikut gabung dan semuanya langsung akrab. Termasuk isteri beliau, bu Nana Deviyana Dewanto yang datang sambil membawa sepiring camilan.

Maka berbincang-bincanglah kami ngalor ngidul. Tentang topik-topik aktual maupun tentang seluk beluk kehidupan kota Lima dan orang Peru pada umumnya.

“Selalu pakai batik pak Dewanto?,” iseng saya nanya.

“Selalu sih tidak. Tapi sering. Kalau ada acara resmi pasti pakai. Itu bagian dari cara menunjukkan kita ini orang Indonesia yang mencintai produk bangsa sendiri. Salah satu bentuk nasionalisme juga dalam bentuk yang paling sederhana. Dan justru orang Peru banyak yang tertarik dan bertanya apa nama baju seperti ini. Promosi Indonesia juga kan?,” ujar alumni HI yang memulai karir diplomatnya di Madagaskar, baru melanglang buana ke Hongkong, Johor Bahru, lama di Bangladesh dan sejak tiga bulan lalu bertugas di Peru.

Sehabis shalat Maghrib, kami diajak mencari tempat makan malam yang enak. Sebelum berangkat kami sempat berpoto bareng dengan Bu Dubes Stela yang kebetulan setelah jam dinas akan balik ke Wisma KBRI. Bu Stela adalah Dubes Wanita pertama dari Indonesia untuk kawasan Amerika Latin. Sebelumnya beliau lama jadi konsulat di Konjen KBRI di Hamburg Jerman.

Sehabis makan malam dan berbincang santai, kami diantar balik ke hotel. Tapi terlebih dahulu berkeliling kota Lima dengan mobil berplat CD yang muat untuk enam orang. Sempat pula mampir sebentar di pantai Larcomar yang terletak di ujung pandangan hotel JW Marriot, tempat di mana kalau Presiden Amerika ke Peru pasti menginap di situ. Pantai ini kalau malam memang indah sekali dan ramai sekali. Keramaian baru berakhir setelah jam 24.00. Aktivitas di bibir pantai harus berhenti.

Tanpa terasa tujuh jam kita seperti dijamu secara istimewa oleh KBRI Peru. Jadi, bukan cuma putrinya om Fadli Zon saja yang bisa mendapatkan pelayanan KBRI di luar negeri. Kami para backpacker biasa pun diperlakukan sangat baik bahkan istimewa. Karena memang ternyata adalah tugas KBRI untuk memberikan pelayanan terbaik yang bisa dilakuka untuk warganya yang sedang berada di luar negeri.

Pokoknya terima kasih atas semuanya. Penerimaan yang begitu hangat, rasanya diluar ekspektasi kami. Rencananya cuma main sebentar dan lapor diri di KBRI. Eh, nggak taunya malah bisa bercengkrama berjam-jam seperti keluarga lama yang baru ketemu kembali. Ini sih udah kelewatan, dilayani seperti kalo anggota DPR lagi sidak ke lapangan.
Hahahaaaa….

Facebook Comments
Share.

About Author

AMONG KURNIA EBO Provokator Bisnis Otak Kanan. Mentor Kaporit di Entrepreneur University. Founder Rich Entrepreneur Academy. Rektor Klathak University Yogyakarta. Pembicara Entrepreneur untuk TKI di berbagai negara (Hongkong, Macau, Jepang, Korea, Kuwait, Dubai, Jeddah, Malaysia, dan Australia). Mentor Bisnis untuk Program MPP di BRI, BNI, Astra, Jasa Raharja, & Semen Gresik). Mantan Wartawan Jawa Pos Group.

Comments are closed.