ANTARA YOGYA DAN LYON

0

Saatnya Atasi Kemacetan dengan Jalur Trem Saya baru pulang dari beberapa negara di Eropa. Sengaja berkeliling dengan sewa mobil. Karena di Avis rentcar SIM A Indonesia diakui dan bisa dipakai jalan nyetir di Eropa. Saya memulainya dari Paris karena pesawatnya mendarat di kota ini.

Setelah dua minggu saya amati, ada yang menarik dari cara berbagai negara ini mengatasi kemacetan lalu lintas di pusat kotanya, terutama di kawasan wisatanya. Salah satu yang saya amati adalah kota Lyon dan Nice. Yang berbatasan dengan negara Monaco, pusat adu kecepatan F.1, yang Aryston Sena pernah menang enam kali.

Sebetulnya Yogya bisa loh kalau ditata kotanya kayak di Lyon atau Nice ini. Supaya kemacetan tidak terurai, lalu lintas kotanya terhindar dari kemacetan. Apalagi Yogya itu kecil dan relatif terpusat tempat-temoay wisata kotanya. Minimal berdekatanlah satu sama lain. Ambarukmo, UGM, Tugu, Mangkubumi, Malioboro, Alun-alun, Prawirotaman, Kotagede, JEC, itu sebetulnya tidak terlalu berjauhan.

Dengan pertimbangan karena jabatan Gubernurnya berlaku seumur hidup, karena melekat pada kedudukan sebagai Sultan, sudah saatnya Yogya dibuatkan trem yang melintas Malioboro dan titik-titik CBD lainnya, termasuk lewat kampus-kampus. Malioboro tidak perlu dilewati kendaraan bermotor atau mobil. Jika ada trem. Ya, tengahnya cukup dikasih jalur trem. Mobil bisa parkir di area sekitar kampus UGM, sekitar Kridosono, sekitar alun-alun, dan titik strategis lainnya.

Nah, dari parkiran publik itu, orang bisa naik trem ke Malioboro, Kraton, Prawirotaman, Kotagede, Janti, Ambarukmo, IAIN, UNY, UGM, Tugu, Mangkubumi, masuk Malioboro lagi. Trem terus muter saja dari titik ke titik itu dengan rute dua jalur bolak balik. Ketepatan waktu bisa dipastikan datang dan perginya. Mungkin proses pembangunannya memang akan butuh waktu bertahun-tahun. Tapi bisa dimulai dari rute yang vital dulu. Toh, jabatan Gubernur tidak akan ganti karena melekat pada jabatan Sultan, maka otomatis proses pembangunannya bisa terus menerus dilanjutkan sampai selesai.

Saya kira membuat jalur trem itulah solusi yang paling masuk akal untuk mengurai keruwetan lalu lintas Yogya saat musim liburan tiba. Apalagi ketika bandara NYIA nanti beroperasi secara normal dan pesawat berbadan besar banyak mendarat di sana. Otonatis jumlah turis akan meningkatkan sua kali lipat, rental mobil otomatis juga akan naik drastis. Solusi mengurai kemacetan dengan trem sudah banyak dilakukan negara atau kota di Eropam Dan terbukti sangat efektif. Maka kenapa Yogya tidak mengarah ke sana?

Program ini akan pasti selesai. Karena dengan jabatan gubernur seumur hidup maka bisa dikondisikan kebijakan tidak akan berubah sampai jalur trem wisata ini selesai. Jika itu bisa diwujudkan maka Sultan akan mempunyai legacy yang sangat mengagumkan bagi kota Yogyakarta. Namanya akan harum. Dan program ini kelak bisa jadi akan menjadi percontohan bagi kota-kota besar lainnya di Indonesia yang sudah mengalami kemacetan parah di area sentral wisatanya.

Moga-moga impian ini bukan sekedar khayalan. Tapi, bisa menjadi bahan diskusi bagi para pemangku kebijakan di Yogyakarta. Bagaimana pun sebagai warga Yogya kita ingin Yogya ini tetap berhati nyaman. *Among Kurnia Ebo, Backpacker Sleman.


Facebook Comments
Share.

About Author

AMONG KURNIA EBO Provokator Bisnis Otak Kanan. Mentor Kaporit di Entrepreneur University. Founder Rich Entrepreneur Academy. Rektor Klathak University Yogyakarta. Pembicara Entrepreneur untuk TKI di berbagai negara (Hongkong, Macau, Jepang, Korea, Kuwait, Dubai, Jeddah, Malaysia, dan Australia). Mentor Bisnis untuk Program MPP di BRI, BNI, Astra, Jasa Raharja, & Semen Gresik). Mantan Wartawan Jawa Pos Group.

Comments are closed.