MENTAL GRATISAN DAN KEMAMPUAN MEMBAYAR

0

Siang-siang dapat suguhan makanan yang bergizi dari Gus Banan, guru spiritual bego saya sekaligus teman ngudud bersama……. Mengapa kita harus membayar?
Karena membangun kesadaran kaya secara faktual dalam kehidupan kita.

Simak tulisannya berikut ini:

KESADARAN MEMBAYAR DAN MENTALITAS GRATISAN

Oleh Muhammad Nurul Banan

Yaumul Hisâb; hari di mana Anda dikalkulasi baik dan buruknya, hari di mana Anda bertanggungjawab penuh atas diri Anda sendiri.

Kalau Anda mengambil barang di toko orang, pasti Anda akan ditagih, “Mana bayarannya?” kalau tidak membayar, Anda disebut maling.

Sekalipun, misalkan, Anda dikasih gratis, Anda pasti menjadi berhutang budi padanya. Itu artinya yang gratis pun hakikatnya tetap berbayar.

Di Yaumul Hisâb Anda ditanyai detail pertanggungjawaban atas segala hal yang Anda perbuat, dari perbuatan sekecil quark di dalam kuantum, hingga perbuatan yang nyata Anda lakukan. Di Yaumul Hisâb segalanya harus Anda bayar lunas.

Benar, hidup dan mati dengan segala perolehannya merupakan rahmat-Nya semata, tidak ada campur tangan lain selain rahmat-Nya, tetapi rahmat itu bukan berarti dapat gratis.

Kisah pelacur yang mati masuk surga gara-gara memberi minum seekor anjing ini contoh kerahmatan Tuhan secara jelas. Bagaimana tidak, Anda yang taat belum tentu masuk surga, pelacur yang kerjaannya ngangkang zina malahan masuk surga. Ada yang pasti telah dibayar oleh si pelacur untuk masuk surga-Nya. Barangkali selama dia melacurkan diri, dia memiliki rasa rendah di hadapan Tuhan, merasa sebagai makhluk fana yang sangat lemah, merasa orang kotor dan jauh dari kesucian, sehingga rasa inilah yang membawanya dalam pure awareness sebagai hamba. Ada yang telah dibayarkan tunai oleh si pelacur.

Dengan adanya mekanisme hisâb itu petunjuk kalau hidup ini semata-mata rahmat-Nya tetapi bukan berarti gratisan, hidup Anda itu berbayar.

Kesadaran membayar ini yang sering Anda lalaikan sehingga mengundang keruwetan di sana-sini. Saya pernah bercerita bagaimana anak saya; Hissi Billaura Fasyarizan ngompol di hotel.

Saat anak saya ngompol di spring bed hotel, saya tidak merasa berdosa tidak apa. Saya cukup ikuti petunjuk di buku panduan hotel yang menjelaskan, “Jika ada ompol mohon tulis pakai pensil yang disediakan di secarik kertas dan geletakkan di lokasi ompol.”

Saya merasa nyaman-nyaman saja karena saya merasa membayar ke pihak hotel untuk menginap.

Berbeda sekali ketika anak saya ngompol di rumah kakak. Ada rasa tidak enak hati yang kuat di hati saya. Sampai-sampai pagi harinya saya tandang nyuci sprey dan jemur kasur demi jaga adab pada tuan rumah.

Kenapa saya tidak enak hati? Karena saya merasa numpang, dan artinya itu menginap gratis.

Hakikat untuk mengundang keharmonisan hidup demikian itu, bayarlah.

Anda amati orang-orang yang bermasa depan cemerlang, mereka pasti telah membayar dengan jerih payah di masa lalu, telah membayar dengan kesabaran memperjuangkan hidup. Mereka harmoni karena mereka telah membayar.

Karena ini mental gratisan itu mental abnormal yang sangat fital mengoyak-koyak keharmonisan hidup Anda.

Kejahatan muncul juga karena kuatnya mental gratis, ingin handphone tinggal jambret tidak mau bayar, ingin duit nyuruh tuyul mengambilnya sehingga Anda tidak perlu kerja, ingin gaji besar tinggal cuci uang sehingga luput dari kerja, dan lain sebagainya.

Ruwet, hidup Anda ruwet kalau Anda masih banyak mengharap gratis di hidup ini. Menyekolahkan anak incar yang gratis, mengajikan anak incar yang gratis, ingin buku incar yang “pinjam”, ingin ilmu pemberdayaan incar yang gratis. Padahal Anda tahu, saya saja merasa tertekan perasaannya ketika anak saya ngompol di rumah orang saat menginap karena gratis.

Bertamu tidak memikirkan bawa oleh-oleh, ditamui tidak memikirkan oleh-oleh, itu juga orang cari gratisan.

Para pelaku kejahatan rampok, korupsi, dan kejahatan kejahatan lain yang mereka terang-terangan mengincar keberlimpahan gratis, pada akhirnya juga harus mereka bayar dengan hukuman. Alam semesta tidak punya mekanisme gratis, segalanya berbayar, maka ini cari gratis itu usaha sia-sia belaka. Jika tidak Anda bayar dengan kesadaran Anda, alam semesta akan meminta bayaran dengan mekanisme bakunya.

Sudahlah. Bayarlah hidup Anda, Tuhan telah menyukupi semua kebutuhan Anda, tinggal siapkan mental Anda untuk membayar, semua akan dibiayai oleh Tuhan.

Namun bukan berarti Anda harus menolak dapat gratisan. Ada gratisan syukuri yang mendalam, hanya saja jangan bermental dapat gratisan.[]

Tulisan ini juga dimuat di group facebook: CARA LUCU JADI PENGUSAHA Bersama Prov Among Kurnia Ebo

Facebook Comments
Share.

About Author

AMONG KURNIA EBO Provokator Bisnis Otak Kanan. Mentor Kaporit di Entrepreneur University. Founder Rich Entrepreneur Academy. Rektor Klathak University Yogyakarta. Pembicara Entrepreneur untuk TKI di berbagai negara (Hongkong, Macau, Jepang, Korea, Kuwait, Dubai, Jeddah, Malaysia, dan Australia). Mentor Bisnis untuk Program MPP di BRI, BNI, Astra, Jasa Raharja, & Semen Gresik). Mantan Wartawan Jawa Pos Group.

Leave A Reply