Kenangan Salat Tarawih di Ekuador

0

Kalau dirasa-rasa, jarak antara Ramadhan ke Ramadhan berikutnya itu rasanya singkat sekali. Belum lama rasanya menjalani bulan itu, tiba-tiba saja sudah ketemu bulan Ramadhan. Ya, ini soal rasa. Bisa dijelaskan pakai teori fisika kalau soal waktu terasa cepat atau terasa lambat itu.

Tetapi, bertemu bulan Ramadhan selalu menyenangkan. Dan pada saat yang sama juga memberi kenangan-kenangan yang tak terlupakan.

Setahun lalu, pas Ramadhan, aku dan Beruanh Kutub punya kesempatan untuk sebulan penuh menjelajah Amerika Latin. Bukan apa-apa. Hanya karena pas saat itu lagi ada promo Turkish Airlines yang dibanderol cuma Rp 6,2 juta PP. Jadi, tanpa pikir panjang langsung eksekusi dan ambil ransel terus terbang.

Dan tentu saja, ada sensasi tersendiri bisa merasakan Ramadhan di negeri orang
Apalagi di negara yang muslimnya minoritas. Salah satunya saya jadikan catatan saat berada tiga hari di Ekuador, sebelum melanjutkan perjalanan ke Kolombia.

Ebo di Ekuador

 

#Catatan Safari Ramadhan di Ekuador Amerika Selatan

SHALAT TRAWEH DENGAN DUA IMAM BERGANTIAN

Sebenarnya menyenangkan juga menjalani Ramadhan tidak di kampung halaman. Apalagi di negeri nan jauh. Yang perjalanannya saja membutuhkan waktu terbang dua hari dua malam. Ya, di Amerika Latin. Negeri minoritas muslim.

Setelah dari Kolombia, Peru, dan Chile, negara keempat yang kita sambangi adalah Ekuador. Dan bertepatan saat berjalannya puasa Ramadhan.

Tentu, kami mencari komunitas muslim di kota ini, Quito, ibukota Ekuador, yang konon salah satu dari tiga ibukota negara yang letaknya tertinggi di dunia, di atas 2500 dpl. Setelah Lapaz dan Bogota.

Dan hari pertama kami taraweh di Masjid Khaled Bin Waled di kawasan La Shyrys Alfaro Quito. Masjidnya besar terletak di tepi jalan utama dengan ciri dua minaret di kanan kirinya.

Masjid jamik yang dibangun oleh komunitas muslim Mesir dan negara-negara Arab sekitarnya seperti Irak, Lybia, Qatar, dll ini bisa menampung sekitar 600 jamaah, jika ditambah dengan aula atas, bisa sampai seribu lebih.

Kami sholat traweh di masjid ini. Sebelum maghrib sudah datang di lokasi, bermaksud mau mencari restoran halal di dekat masjid untuk buka puasa. Ternyata itu tidak terjadi. Sebab, setelah sholat Maghrib selesai langsung ada pengumuman agar jamaah buka puasa bersama di lantai atas. Sudah disiapkan makanan berbuka berlimpah ruah. Setelau usai buka dan berbincang-bincang antar jamaah yang hadir, tak lama kemudian terdengar kumandang azan Isyak. Bergegaslah semua berwudhu dan kembali masuk lantai satu masjid.

Taraweh di masjid Ekuador dilakukan dengan sebelas rekaat. Didahului dengan sholat Isyak berjamaah dahulu tepat pukul 19.30 waktu Quito. Begitu selesai langsung dilanjut dengan taraweh dua rekaat salam, dua rekaat salam. Lalu berhenti, jeda sebentar, untuk diisi kultum sekitar 7-10 menit.

Setelah kultum selesai, taraweh dilanjut lagi. Kali ini dengan imam yang berbeda. Jadi setelah kultum selesai, imam dan penceramah keduanya turun mimbar, diganti imam yang baru. Memimpin sholat traweh lanjutan dua rekaat salam, dua rekaat salam, dan diakhiri dengan witir tiga rekaat.

Berbeda dengan di Indonesia, witir sholat traweh di Quito diakhiri dengan Doa Qunut yang sangat panjang di rekaat ketiga sebelum salam. Ada panjangnya sekitar sepuluh menit dan dibacakan dengan senandung yang syahdu. Imam yang memimpin kali ini adalah Ustad Abdurahman yang alumni Al-Ahar Kairo. Sehabis traweh tentu kami langsung balik ke hotel.

Pada traweh hari kedua, saya dan Tony Hardiyanto pindah ke masjid yang lain. Kita menuju ke Masjid As-Salam yang lokasinya lebih dekat, berada di kawasan sentral di depan embassy Prancis.

Sebelum maghrib kita sudah di lokasi. Dan ternyata banyak juga jamaahnya. Ternyata masjid As-salam adalah justru masjid pertama ada di Quito sejak 1999. Yang membangun adalah Ustad Yahya yang kini jadi imam besar masjid ini. Beliau adalah mantan veteran perang Ekuador, yang masuk Islam gara gara pas tangan kirinya diamputasi di Amerika Serikat, yang merawatnya seorang dokter muslim.

Dalam percakapan itulah dia merasa mendapat hidayah sehingga saat pulang ke Ekuador langsung jadi mualaf dan mewakafkan rumahnya untuk dijadikan masjid. Sampai sekarang. Malam itu kami makan kenyang di masjid karena hidangan melimpah dan bahkan bisa berbincang lama dan foto-foto bareng dengan Ustad Yahya.

Kenapa kita pindah masjid ke As-Salam, selain karena ingin merasakan suasana masjid yang berbeda, juga karena siang harinya sudah ke masjid Khalid bin Walid. Pas jumatan itulah kami bertemu dengan staff KBRI mas Rafi Eranda Jahja dan pak Erwan. Yang begitu ketemu langsung akrab dan mengundang kita untuk datang ke KBRI.

.

Nah, pas traweh hari ketiga nih yang unik. Kita datang ke masjid tanpa ekspektasi apa-apa. Niatnya ya pokoknya maghriban, buka puas, sholat traweh terus balik hotel. Eh, ternyata pas mau sholat traweh malah ketemu dengan pak Azat Sudrajat, staf KBRI yang juga lagi mengajak putranya, mas Fatur, traweh di masjid Khalid bin Walid.

“Eh, habis sholat traweh, nggak usah langsung pulang. Ikut saya ke rumah. Kita ngopi-ngopi di apartemen saya. Cerita-cerita di rumah aja, banyak camilan juga,” pinta pak Pak Azat sebelum iqomah dikumandangkan.

Maka, jadilah saya dan Tony malam itu ikut mobil pak Azat meluncur ke apartemennya. Datang di apartemen disambut isteri beliau Bu Yuliawati Lia, yang langsung menawarkan mau kopi apa teh panas. Dan perbincangan di antara kami pun berlangsung hingga larut malam. Ngalor ngidul temanya, ya tentang Indonesia, ya tentang Ekuador, ya tentang pengalaman beliau yang sebelum ini bertugas di Kuwait lama dengan beragam problem TKI yang dihadapinya.

Pertemuan dengan pak Azat dan bu Lia ini juga tak terlepas dari peran mbak Dina Nurdini, teman kuliah dulu, yang kini masih betah berkarir di Kedutaan Republik Indonesia di Kuwait. Satu kantor dengan pak Azat waktu beliau masih berdinas di Kuwait. Makasih ya tante Dina. Sehat dan sukses selalu pokoknya

Jam 24.00 kami pamit, nyegat aksi, dan lima menit pun sudah sampe hotel lagi. Meski Quito ini ibukota negara tapi kalau malam relatif lengang jalannya. Jam sembilan malam seiring toko-toko yang tutup, jalanan mulai lancar tanpa kemacetan.

Malam ini kami sholat terawih di tempat yang berbeda lagi. Yakni, di Wisma KBRI. Sekalian buka puasa bersama dan sholat taraweh bersama. Ketemu banyak orang Indonesia serasa tidak kesepian di negeri orang…

Selamat menyiapkan santap sahur untuk yang di Indonesia. Perbedaan waktu kita selisih 12 jam dengan Ekuador.

.

Begutulah, kenang-kenangan yang indah saat bersafari Ramadhan di benua seberang….

 

Among Kurnia Ebo

Facebook Comments
Share.

About Author

AMONG KURNIA EBO Provokator Bisnis Otak Kanan. Mentor Kaporit di Entrepreneur University. Founder Rich Entrepreneur Academy. Rektor Klathak University Yogyakarta. Pembicara Entrepreneur untuk TKI di berbagai negara (Hongkong, Macau, Jepang, Korea, Kuwait, Dubai, Jeddah, Malaysia, dan Australia). Mentor Bisnis untuk Program MPP di BRI, BNI, Astra, Jasa Raharja, & Semen Gresik). Mantan Wartawan Jawa Pos Group.

Leave a Reply