Negara Horor yang Tak Jadi Kami Datangi

0

Kolombia, 4 Juni 2018
Catatan terakhir Safari Ramadhan Amerika Selatan

Tentang Negara Horor yang Tak Jadi Kami Datangi

Sebetulnya ada keinginan untuk meneruskan rute perjalanan ini ke dua negara terakhir. Kuba dan Venezuela. Tapi destinasi ini harus kami pending, karena memang tidak menguntungkan untuk saat ini. Kami putuskan segera balik ke tanah air, NewYorkyakarta tercinta.

Saat menginap di Guest House, Bogota, Kolombia kami satu kamar dengan penghuni yang salah satunya dari Venezuela. Kami memang dapat kamar dorm. Sekamar ada empat kasur. Per kasur Rp 120.000,- per malam.

“Saya harap kalian tidak pergi ke Venezuela. Riskan. Sangat berbahaya. Kalian akan berjudi dengan nyawa kalian. Saya tidak menakut-nakuti. Lebih baik pilih negara lain yang aman,” ujarnya sangat serius.

Namanya Andres. Sudah selesai kuliah. Tapi sudah hampir tiga bulan semenjak lulus dari kampusnya, ia berada di Kolombia. Pantas, bahasa Ingrisnya sangat bagus. Kalau ketemu di guesthouse, kami selalu ngumpul di teras depan kamar yang tersedia beberapa tempat duduk yang nyaman, di dekat dapur, yang menyediakan free minum, teh atau kopi tapi menyeduh sendiri.

“Aku harus melindungi nyawaku. Jangankan mau cari kerja. Mau cari makan saja sulit. Orang bisa membunuh orang lain hanya berebut sepiring makanan atau sepotong daging. Kalian boleh tidak percaya. Tapi faktanya, setiap hari ada sepuluh atau dua puluh orang mati terbunuh karena situasi sulit ini,” ujarnya.

Andres mengaku, dia “melarikan” diri dari negaranya demi nyawanya. Sudah tiga bulan. Dan entah sampai kapan ia tak tahu. Sampai negaranya aman dan kembali normal. Untuk bertahan dia mau bekerja serabutan apa saja di Bogota, yang penting bisa untuk makan dan bisa bayar kamar guesthousenya.

Ia bercerita negaranya kini sudah bangkrut. Negara gagal dan Presiden Maduro tak mampu berbuat apa-apa di tengah krisis Venezuela. Sebabnya, katanya, karena harga minyak terjun bebas sejak setahun lalu. Padahal, Venezuela adalah negara yang mengandalkan 90% pendapatan negaranya dari eksplorasi minyak mentah dan selama ini sangat terlena dengan potensi sumber daya alam yang besar itu.

Tiba-tiba krisis. Inflasi mencapai 10.000 persen. Mata uang menjadi sama sekali tak berharga. Untuk membeli sebotol susu atau seikat daging orang harus menyiapkan uang segepok. Semua barang menjadi sangat mahal harganya meski itu hanya sebutir telor. Sedang rata-rata warga Venezuela kondisinya miskin atau pas-pasan. Ekonomi Venezuela terjun ke jurang terdalam.

“Kamu tahu? Di negaraku kriminalitas menjadi sangat tinggi. Menodong, menjambret, mencuri atau bahkan merampok, menjadi berita hari-hari. Mereka saling kanibal demi meneruskan nyawa masing-masing,” lanjutnya.

“Sering terjadi, karena sudah saking laparnya, sekelompok orang mencari hewan ternak di mana saja untuk dibunuh dan diambil ramai-ramai. Tidak peduli punya siapa. Kalau ada sapi atau kambing lewat, pasti langsung dikejar dan dibantai. Terakhir aku dengar, hewan-hewan di kebun binatang juga sudah habis dijarah dan dimakan dagingnya. Semuanya hanya agar bisa surviv,” jelasnya.

Yang tidak mau ikut-ikutan menjarah, mereka akan menawarkan diri bekerja apa saja yang penting dapat upah. “Dan mereka tidak mau diupah dengan uang tapi minta dibayar dengan makanan atau bahan masakan. Sebab, kalo dibayar dengan uang mereka kuatir tidak cukup untuk membeli makanan diluar karena yang punya stok makanan bisa membanderol harga sesuka hatinya,” jelas Andres.

.

Saya jadi ingat kata-kata Pak Dewanto Priyokusumo, Sekretaris Dubes RI Peru, saat kami dijamu makan malam di rumahnya di kawasan pusat ibukota Lima.

“Di Peru ini lagi kebanjiran pengungsi dari Venezuela, Mas. Negaranya krisis. Mereka pada lari ke sini. Dan akhirnya juga memunculkan problem baru. Ada konflik dengan warga lokal. Sebab, mereka mau bekerja apa saja dan dibayar murah yang penting bisa surviv. Akibatnya, standar upah karyawan jadi rusak. Banyak warga lokal di PHK dan toko atau kantor memilih orang Venezuela ini karena mau dibayar jauh lebih murah,” terangnya.

Jadi, klop sudah dengan cerita Andres. Bukan hanya Kolombia yang kena imbas banjir imigran Venezuela, tapi Peru juga merasakannya.

Tidak ke Venezuela, sebenarnya ada pilihan lanjut ke Kuba. Karena di negara komunis itu ada dua atau masjid yang mendengungkan azan di kota Havana. Orang-orang membangun masjid besar di zana, yang juga menjadi langganan orang-orang kedutaan kita kalau salat Jumat.

Tapi, ke Kuba ternyata bukan persoalan mudah. Tidak ada penerbangan langsung menuju kota Havana itu. Yang tergampang adalah harus terbang dulu ke Meksiko atau sekalian ke Amerika, dari sana baru pilih penerbangan yang direct ke Havana Kuba.

Tapi, itu pun belum selesai urusannya. Soal terbang ke Amerika tidak masalah, karena kami masih punya Visa USA yang masih valid hingga tahun 2020. Tapi, bukan itu masalahnya.

Untuk masuk Kuba ternyata diperlukan semacam “calling visa” agar bisa lolos dari imigrasi. Jadi tidak cukup membawa tiket PP dan bookingan hotelnya. Tapi harus punya travel agent lokal yang mau mengurus semacam visa itu dan menjamin kami selama ada di Kuba. Nah, di sinilah problemnya, kita perlu waktu untuk itu dan pasti agak rumit kalo dadakan. Padahal, sebagai backpacker kita nggak mau yang rumit-rumit. Yang enak-enak ajalah, yang nggak enak biar dikasihkan kucing aja.

Nah, atas dasar pertimbangan-pertimbangan itulah, kami berdua memutuskan pulang saja. Apalagi sudah kangen pecel lele dan tahu tempe. Kangen juga dengan Sate Klatak. Kalau sudah ketemu semua makanan itu kayaknya bakal terbayar kekecewaan tak bisa terbang ke Kuba dan Venezuela.

Nah, perjalanan pulang ke Indonesia, artinya kami harus lagi balik terbang dari barat ke timur. Melintas daratan Eropa, Tinur Tengah, India, baru nyampe ke Indonesia. Butuh waktu 28 jam perjalanan. Pasti jet lag nanti nggak karu-karuan. Pasti waktu akan kebalik-balik tanpa bisa dikontrol badan.

Tapi, nggakpapa. Yang penting besok Selasa Malam sudah bisa menikmati Sate Klatak di Jalan Imogiri. Kan warung satenya buka 24 jam. Jadi, jangan sampai iler ini tumpah duluan gara-gara kelamaan nggak menyantap empuknya sate klatak.

Sekian…
Selamat Berpuasa!
Salam Backpacker!

Sampe ketemu di edisi keluyuran selanjutnya. Pengennya sih Keluyuran ke Afrika Tengah dan Selatan! Doakan ya….

Facebook Comments
Share.

About Author

AMONG KURNIA EBO Provokator Bisnis Otak Kanan. Mentor Kaporit di Entrepreneur University. Founder Rich Entrepreneur Academy. Rektor Klathak University Yogyakarta. Pembicara Entrepreneur untuk TKI di berbagai negara (Hongkong, Macau, Jepang, Korea, Kuwait, Dubai, Jeddah, Malaysia, dan Australia). Mentor Bisnis untuk Program MPP di BRI, BNI, Astra, Jasa Raharja, & Semen Gresik). Mantan Wartawan Jawa Pos Group.

Comments are closed.