MEROKET, PRODUK UNGGULAN AGRIBISNIS MUHAMMADYAH: ROJOLELE ORGANIK

0

Seharian kemaren saya menemani teman-teman LazizMu dan PC Muhammadyah Babad Lamongan di bawah pimpinan mas Eko Hijrahyanto Erkasi dan Edy Syahputro, yang lagi studi banding model pemberdayaan agribisnis jamaah Muhammadyah yang khususnya yang berprofesi sebagai petani. Lokasinya di desa Gempol, Jatinom Klaten. Selaku tuan rumah yang dikunjungi untuk studi banding ini adalah Majelis Ekonomi Kerakyatan dan MPM PC Muhammadyah Jatinom Klaten.

Model pemberdayaan petani versi Majlis Pemberdayaan Masyarakat PP Muhammadyah adalah konsern yang sudah lama dirintis semenjak jaman pak Said Tuhuleley (alm). Bahkan disertasi doktornya pak Said juga tentang ini. Yakni memberdayakan masyarakat di tingkat terbawah yakni para petani. Tujuannya agar kesejahteraan petani meningkat dengan menghasilkan produk yang berkualitas dan diakui oleh pasar. Hal ini karena kalangan petani inilah yang selama ini kurang mendapat sentuhan pemberdayaan dari Muhammadyah.

Salah satu pilot proyek yang sudah berhasil adalah JATAM (Jaringan Tani Muhammadyah) di Jatinom Klaten ini. Mereka sudah membentuk kelompok tani yang khusus fokus mengembangkan pertanian organik, dengan varietas padi Rojolele. Rojolele adalah produk varietas padi unggulan Klaten yang konon dulunya adalah beras yang paling disukai raja-raja mataram. Sekarang mau diangkat lagi potensi dan popularitasnya.

“Full 100% organik ya. Bukan hanya hasilnya. Tapi dari prosesnya hingga perlakuan akhirnya. Kita sudah tersertifikasi oleh Deptan. Prosesnya dulu sangat rumit. Tidak boleh ada SOP yang salah satu pun. Yang kita kembangkan jenis Rojolele. Dan sudah pemuliaan karena kita bekerjasama dengan pakarnya dari UGM,” jelas Wahyudi Nasution, Ketua MEK (Majelis Ekonomi Kewirausahaan) PDM Klaten yang juga anggota MPP (Majelis Pemberdayaan Masyarakat) PP Muhammadyah, yang memandu dan menjamu para peserta ini, baik saat rapat, makan siang, maupun di lahan dan gudang pengemasan.

Padi Rojolele yang dihasilkan para petani JATAM di Klaten ini dikelola dengan manajemen yang rapi dan terpadu sehingga standar kualitasnya selalu bisa dijaga. Pengemasannya pun sudah memakai plastik vakum sehingga beras akan awet sampai dua tahun.

“Padi organik Rajalele ini kami hargai Rp 25.000 per kilogram. Sementara masih beredar di kalangan Muhammadyah. Kami apresiasi kepada Universitas Muhammadyah Yogyakarta yang setiap bulan membeli 5 ton untuk diedarkan kepada kalangan dosen dan karyawan di UMY. Ini jelas sangat memberi semangat kepada para Petani JATAM. Yang lain-lain beredar kewat koperasi dan personal-persona,” jelas Wahyudi, yang juga Direktur Utama pabrik konveksi jilbab BUNDA Collection Klaten.

Ciri khas varietas Rojolele ini adalah masa tanam yang panjang. Sekitar empat bulan baru panen. Dan justru bagus dikembangkan di lahan yang tak terlalu melimpah airnya. Karena harus full organik, pengairannya pun harus tertutup atau tersterilisasi dari pengairan yang umum. Harus ada treatment khusus agar air yang masuk tidak terkontaminasi dengan bahan kimia atau polutan lain ari perairan irigasi umum.

Model ini sudah mulai merambah beberapa daerah. Kalau yang melakukan studi banding dan magang sendiri sudah ada ratusan orang. Tapi yang mempraktekkan langsung baru beberapa daerah.

Capek tapi seneng. Itu yang saya rasakan. Entahlah, kalau ada program-program Muhammadyah yang positif, produktif, dan bervisi pemberdayaan jamaah, saya berasa antusias, bersemangat sekali menjalaninya. Saya sendiri berharap keberadaan JATAM ini akan menjadi salah satu amal usaha Muhammadyah unggulan di masa depan, yang langsung menyentuh lapis kehidupan masyarakat terbawah.

“Kita ingin petani juga kesejahteraannya meningkat. Cara budidayanya juga terukur dan benar. Sehingga pasar akan dengan senang hati menerima dengan harga yang pantas. Selama ini petani itu cenderung asal dalam budidaya dan hasilnya pun pakpuk, impas. Ini yang ingin kita terobos. Dengan sinergi bersama LazizMu dan pihak kampus, saya optimis program idealis ini akan berhasil,” jelas Wahyudi saat menjamu tamunya di sate tengkleng Pak Kamto Jatinom yang legendaris itu.

Islam Agamaku
Muhammadyah Gerakanku
Aku Bangga Jadi Warga Muhammadyah

Facebook Comments
Share.

About Author

AMONG KURNIA EBO Provokator Bisnis Otak Kanan. Mentor Kaporit di Entrepreneur University. Founder Rich Entrepreneur Academy. Rektor Klathak University Yogyakarta. Pembicara Entrepreneur untuk TKI di berbagai negara (Hongkong, Macau, Jepang, Korea, Kuwait, Dubai, Jeddah, Malaysia, dan Australia). Mentor Bisnis untuk Program MPP di BRI, BNI, Astra, Jasa Raharja, & Semen Gresik). Mantan Wartawan Jawa Pos Group.

Comments are closed.